hkti

Aktifitas Sosial Prabowo Subianto – HKTI

HKTI adalah sebuah organisasi sosial di Indonesia yang berskala nasional, berdiri sendiri dan mandiri yang dikembangkan berdasarkan kesamaan aktivitas, profesi, dan fungsi di dalam bidang agrikultur dan pengembangan pedesaan, sehingga memiliki karakter profesional dan persaudaraan. HKTI didirikan pada 27 April 1973 di Jakarta melalui penyatuan empat belas organisasi penghasil pertanian utama.

HKTI bertujuan meningkatkan pendapatan, kesejahteraan, harkat dan martabat insan tani, penduduk pedesaan dan pelaku agribisnis lainnya, melalui pemberdayaan rukun tani komoditas usaha tani dan percepatan pembangunan pertanian serta menjadikan sektor pertanian sebagai basis pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan tujuan nasional sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945.

HKTI memiliki fungsi sebagai:

  1. Wadah penghimpun segenap potensi insan tani Indonesia dan atau “Rukun Tani” jenis komoditas usaha tani.
  2. Alat penggerak pengarah perjuangan insan tani Indonesia.
  3. Sarana penampung dan penyalur aspirasi amanat penderitaan rakyat tani penduduk pedesaan.
  4. Wahana menuju terwujudnya cita-cita nasional, Indonesia raya.
  5. Arena pemberdayaan dan pendidikan insan tani, masyarakat pertanian dan pedesaan

Ketua Umum Prabowo Subianto
Sekretaris Jenderal Fadli Zon
Situs web HKTI

logo Ikatan pencak Silat Indonesia (IPSI)

Aktifitas Sosial Prabowo Subianto Ikatan pencak Silat Indonesia (IPSI)

Pencak Silat sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia berkembang sejalan dengan sejarah masyarakat Indonesia. Dengan aneka ragam situasi geografis dan etnologis serta perkembangan zaman yang dialami oleh bangsa Indonesia, Pencak Silat dibentuk oleh situasi dan kondisinya. Kini Pencak Silat kita kenal dengan wujud dan corak yang beraneka ragam, namun mempunyai aspek-aspek yang sama. Pencak Silat merupakan unsur-unsur kepribadian bangsa Indonesia yang dimiliki dari hasil budi daya yang turun temurun.

Sampai saat ini belum ada naskah atau himmpunan mengenai sejarah pembelaan diri bangsa Indonesia yang disusun secara alamiah dan dapat dipertanggung jawabkan serta menjadi sumber bagi pengembangan yang lebih teratur. Hanya secara turun temurun dan bersifat pribadi atau kelompok latar belakang dan sejarah pembelaan diri inti dituturkan. Sifat-sifat ketertutupan karena dibentuk oleh zaman penjajahan di masa lalu merupakan hambatan pengembangan di mana kini kita yang menuntut keterbukaan dan pemassalan yang lebih luas.

http://id.wikipedia.org/wiki/Ikatan_Pencak_Silat_Indonesia

Aktifitas Sosial Prabowo Subianto Yayasan 25 Januari

Setiap tanggal 25 Januari, selalu dilaksanakan upacara Peringatan Peristiwa Pertempuran Lengkong yang diadakan di Taman Makam Pahlawan Taruna Tangerang (TMPTT) dan Monumen Daan Mogot di BSD City. Peristiwa Pertempuran Lengkong yang terjadi di desa Lengkong Wetan, Serpong, pada 25 Januari 1946 ini, telah merenggut 34 nyawa putra terbaik bangsa, yang rela melawan penjajah Jepang dengan mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan tanah air tercinta.

Rani D. Sutrisno, Ketua Harian Yayasan 25 Januari 1946 dalam sambutannya mengatakan bahwa, BSD yang kini berkembang menjadi BSD City telah banyak membantu terlaksananya acara Peringatan Peristiwa Pertempuran Lengkong. “Semoga kegiatan ini tetap berlangsung,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan pula oleh Prabowo Subianto, Ketua Yayasan 25 Januari 1946. “Peristiwa Lengkong adalah bagian dari sejarah. Pada peristiwa tersebut, remaja-remaja Indonesia rela memberikan jiwa dan raganya untuk ibu pertiwi demi kemerdekaan Indonesia. Terimakasih kepada PT BSD yang terus mendukung terlaksananya acara ini,” ucapnya.

H. Djoko Munandar, Gubernur Banten memaparkan bahwa, acara peringatan ini dapat melestarikan pesan nilai perjuangan, dan memberikan wawasan kebangsaan, serta menjadi landasan yang kuat pada sistem pertahanan dan keamanan negara. Sementara itu, Mayor Jendral M. Yunus Palar, Gubernur Akademi Militer (Akmil) menambahkan bahwa, tanggal 25 Januari telah ditetapkan oleh KSAD sebagai Hari Bakti Taruna. Di masa yang akan datang, acara ini rencananya juga akan dilaksanakan di Akmil, Magelang.

Yayasan SUPERSEMAR

Aktifitas Sosial Prabowo Subianto Yayasan SUPERSEMAR

Bertolak dari pemikiran bahwa masalah pendidikan adalah masalah yang harus ditanggulangi bersama antara orang-tua, masyarakat, dan Pemerintah. Bahwa banyak anak muda Indonesia yang memiliki kemampuan intelektual, namun keadaan orang tuanya kurang mendukung kelangsungan pendidikan formal yang tengah ditekuninya.

Bahwa apabila mereka itu mendapatkan kesempatan yang sama dengan anak-anak dari keluarga yang berkecukupan niscaya akan mampu berkembang dan pada gilirannya akan menjadi salah satu modal bagi pembangunan bangsa, karena merupakan sumber daya manusia yang terdidik. Jadi, apabila ada uluran tangan dari orang atau lembaga penyandang dana tentulah sangat berarti, setidak-tidaknya sangat membantu bagi upaya mengatasi keadaan tersebut.

Bapak Soeharto, saat itu, berhasrat membantu Pemerintah di dalam upaya mengatasi problema yang tengah dihadapi dunia pendidikan tersebut. Pengalaman beliau memimpin Yayasan Trikora, yang memberikan beasiswa bagi putra-putra pejuang “Trikora” dan “Dwikora” cukup menjadi bekal untuk mendirikan sebuah yayasan beasiswa yang bersifat lebih umum dan lebih luas jangkauan santunannya.

Maka, pada tanggal 16 Mei 1974, bertambah lagi sebuah yayasan beasiswa di Indonesia yang dipimpin oleh Bapak Soeharto, yang siap berkiprah bersama- sama dengan lembaga/ yayasan lain yang sudah ada membantu Pemerintah. Yayasan ini dinamakan Yayasan Supersemar.