Dukung Gedung Baru DPR, Pius Dimarahi Prabowo

Jakarta – Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto mengetahui sikap anak buahnya, Pius Lustrilanang yang mendukung pembangunan gedung baru DPR. Prabowo mencak-mencak dan memarahi Pius.

Kejadian itu terjadi saat Prabowo mengumpulkan seluruh fraksi Gerindra di sebuah restoran di Kebayoran, Jakarta Selatan. “Pak Prabowo bilang, Pius tugasmu di BURT untuk menggagalkan gedung baru, bukan menyetujuinya,” ujar Ketua DPP Gerindra, Martin Hutabarat, saat dihubungi detikcom, Kamis (14/4/2011)

Menurut Martin kejadian itu terjadi pada bulan Agustus 2010 saat Prabowo mengundang buka bersama seluruh fraksi Gerindra.

“Pak Prabowo sangat marah, nadanya tinggi saat mengatakan itu. Kita tahu bapak waktu itu sedang marah,” terangnya.

Martin mengatakan sikap Gerindra terhadap rencana pembangunan gedung baru adalah menolaknya. Hal ini dikarenakan pembangunan gedung baru tidak pro kerakyatan.

“Waktu itu semua diam, Pius juga diam karena bapak sedang marah,” ucapnya.

Sebelumnya, sekretaris FPPP DPR, M Romahurmuzy, yang ikut dalam rapat BURT tentang gedung baru memaparkan siapa-siapa saja yang mendorong pembangunan gedung baru. Salah satu yang paling berperan menggolkan usulan tersebut menurut Romahurmuzy adalah Pius Lustrilanang.

“Yang pertama adalah Pius Lustrilanang, dia yang memberi penjelasan pertama kali. Dia sangat runtut menjelaskan bahwa kalau DPR membatalkan pembangunan gedung baru berarti melanggar UU Parlemen, Tatib, dan sebagainya,” keluh politisi muda PPP yang akrab disapa Romi ini.

Pius Lustrilanang adalah Wakil Ketua BURT DPR sekaligus Ketua Panja pembangunan gedung baru DPR. Posisi Pius mendorong gedung baru DPR tergolong unik, sebab partai Gerindra yang diwakilinya menolak gedung baru DPR. Belakangan, Pius juga terancam dicopot dari posisi strategis ini.

Pius tak sendirian dalam rapat tersebut. Romi mamaparkan, Ketua BURT yang juga Ketua DPR Marzuki Alie juga kian mendorong kelanjutan pembangunan gedung baru. Marzuki hanya memberikan opsi setuju atau menolak gedung baru, tanpa menghiraukan keinginan sejumlah fraksi untuk menunda pembangunan gedung baru DPR.