Fadli Zon: Beberapa Kali Prabowo Bertemu SBY

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra Fadli Zon mengakui bahwa ada pertemuan antara Prabowo Subianto selaku Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Fadli, saat dikonfirmasi khusus oleh Persda Network, Rabu (17/2/2010) mengaku bahwa pertemuan keduanya atas dasar sudah berteman sejak lama.

“Mereka kan berdua sudah lama berteman. Jadi, kalau ada pertemuan ya tidak masalah,” ungkapnya. Fadli kemudian membantah bahwa pertemuan antara Prabowo Subianto dan Presiden SBY terkait sikap Fraksi Gerindra di DPR menyangkut kesimpulan terkait kasus Bank Century. “Tidak ada pembicaraan itu. Sikap kami tentunya sama dengan apa yang sudah disampaikan. Kami tentu menyikapi kasus ini didasari atas hasil investigasi dan fakta-fakta yang terungkap. Kalaupun ada arahan (dari Prabowo), tentunya meminta agar sikap didasari fakta yang terungkap,” Fadli menjelaskan.

Fadli juga membantah saat ditanya mengenai isu yang berembus bahwa Gerindra mendapat tawaran posisi menteri. “Kalau kami mau (posisi menteri), kenapa tidak dari dulu saja. Dan yang jelas, sampai saat ini belum ada tawaran itu,” ucap Fadli. Mereka kan berdua sudah lama berteman. Jadi, kalau ada pertemuan, ya tidak masalah.

Pertemuan antara Prabowo Subianto dan Presiden SBY dikabarkan sudah dilakukan beberapa kali. Namun, Fadli mengaku tidak mengetahui persis kapan terakhir pertemuan itu dilakukan. Sebelumnya, Sekjen DPP Partai Gerindra yang juga anggota Pansus Angket Kasus Bank Century DPR, Ahmad Muzani, mengungkapkan secara diplomatis mengenai adanya lobi yang dilakukan. Namun, Ahmad Muzani tidak menjelaskan, siapa yang melakukan pertemuan lobi yang dilakukan pada minggu lalu itu.

“Yang jelas, pertemuan memang sudah dilakukan beberapa kali. Persisnya saya lupa kapan. Pertemuan pun hanya komunikasi biasa, tidak ada deal apa pun. Pertemuan membicarakan soal nasib bangsa,” ungkap Fadli Zon. Beberapa waktu lalu, salah seorang Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan Agnita Singedikane membantah adanya tawaran menteri. Agnita menegaskan, sikap resmi partainya sesuai amanat hasil kongres di Bali sebelumnya, yaitu menyatakan oposisi terhadap pemerintah.

“Nah, keputusan nantinya pada kongres partai yang akan dilaksanakan di Bali juga (bulan April). Apa sikap resmi partai ke depan, sampai saat ini kami tetap oposisi. Kalau ada yang mau jadi menteri, maka silakan keluar dari partai,” kata Agnita.