Gerindra Menyodok, Prabowo Disodok

INILAH.COM, Jakarta – Gerindra diprediksi bakal masuk di posisi empat besar pada Pemilu 2014. Gerindra menyodok, namun Prabowo juga bakal disodok. Mengapa?

Hasil survei Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) pada 24-28 Oktober menunjukkan, setahun setelah Pemilu 2009, banyak kejutan yang muncul dari partai politik. Salah satunya Partai Gerindra berada di posisi empat besar. Gerindra menyodok ke posisi empat besar. “Partai Gerindra ada di nomor urut empat setelah Partai Demokrat, Partai Golkar dan PDIP,” ujar Direktur Eksekutif Puskaptis Husin Yazid, Sabtu (30/10). Meningkatnya ketertarikan publik terhadap Partai Gerindra disebabkan faktor Prabowo Subianto. “Meningkatnya peminat Gerindra disebabkan ketokohan Prabowo Subianto yang dianggap figur pengganti SBY,” paparnya.

Prabowo sangat mungkin akan bersaing dengan Aburizal Bakrie, Hatta Radjasa, Ani Yudhoyono dan Hidayat Nurwahid. Namun kini Prabowo juga disodok. Kasus HKTI yang terbelah, disengaja untuk membangkitkan kemarahan Prabowo. Oleh lawan politik Prabowo, isu HAM juga dipakai untuk merusak reputasi mantan Danjen Kopassus itu.

“Prabowo harus hati-hati, sebab banyak pihak yang ingin menjatuhkannya dari segi citra dan wibawa serta kharisma. Saya menduga, isu HAM dan HKTI Osman Sapta sengaja membelah HKTI Prabowo untuk membangkitkan kemarahan Prabowo,” papar Darmawan Sinayangsah, Direktur Freedom Fondation, kemarin.

Prabowo juga dipancing dengan isu HAM. Sehingga lawan politiknya berharap Prabowo menjadi temperamental dan marah kepada HKTI Osman Sapta dan aktivis HAM. “Oleh lawan politik, hal itu justru dieksploitasi untuk menunjukkan kepada publik bahwa Prabowo temperamental dan ada persoalan. Dengan cara demikian ia disodok dan dijatuhkan. Maka, seluruh slagorde Prabowo harus tenang, waspada dan cerdas akan hal-hal semacam ini,” tambah jebolan Fisip UI itu.

Hal senada juga diungkapkan Benni Akbar Fatah, mantan tim 11 KPU era Presiden BJ Habibie dan aktivis Fosko 1966. Ia mengatakan, Prabowo harus hati-hati dan mawas diri karena banyak musuh politik yang diam-diam mau menghancurkan karir dan cita-citanya. Benni melihat, pada hasil Pemilu 2009, Partai Gerindra memperoleh suara nasional 4,46% atau di urutan delapan dari sembilan partai politik yang memenuhi ambang batas perolehan kursi di parlemen atau parliamentary threshold (PT) 2,5%.

Sehingga prospek ke depan relatif cerah dan itu menimbulkan kecemburuan politisi lain yang bersaing dengan Prabowo. “Ibaratnya, kalau Gerindra menyodok, Prabowo pun disodok,” tandas Benni. Terkait masuknya enam partai politik ke Partai Gerindra dalam momentum Rapimnas III hal itu merupakan ‘fakta’ yang konstruktif. Gerindra juga bersikap realistis dengan menerima mereka. “Itu pilihan realistis, karena perolehan suara Partai Gerindra akan meningkat dalam Pemilu 2014 mendatang,” cetus Husin Yazid.

Sekali lagi, bisa jadi, Gerindra bakal menyodok, namun Prabowo bakal disodok dengan berbagai isu. “Politik kita masih sebatas hal-hal murahan, maka Prabowo meski mawas diri dan cermat dalam melangkah agar tidak kejeblos di kemudian hari,” kata Benni yang juga mantan tahanan politik Orde Baru itu. [mdr]