HKTI, Buktikan Kiprahmu Kepada Petani!

HKTI adalah sebuah “roh” perjuangan kaum tani yang ditunjukkan dengan jiwa individu yang mengerti persis nasib kaum petani di negeri ini..

Himpunan Kerukanan Tani Indonesia (HKTI) sebagai organisasi petani yang lahir 37 tahun lalu, penting untuk kita dibahas. Apalagi momen nya saat ini adalah dalam rangka Munas-ke VII nya. Sejaumana semangat dan komitmennya selama ini membawa kiprahnya sebagai organisasi “perjuangan dan pembela kau tani” itu dalam menapaki hari-harinya yang terus dirundung persoalan yang tak pernah tuntas. Salah satunya menjaga dan mengawal revitalisasi pembangunan pertanian yang telah di canangkan pak beye 5 tahun lalu itu. Dan ada juga yang tak kalah hebihnya ketika terkuaknya data sensus pertanian 2003, menyatakan bahwa angka kemiskinan petani terjadi peningkatan secara signifikan. Serta eksistensi HKTI yang memang sudah mengalami kelunturan karena program-programnya yang dinilai tidak berwujud nyata dalam aksinya di lapangan.

Seharusnya, HKTI mampu mencermati secara berani dan kritis poin-poin apa saja yang diperlukan dalam revitalisasi pembangunan pertanian. Toh semua itu demi memberikan perubahan yang signifikan bagi potret petani di rezim reformasi ini. sebisanya ambillah hati kaum tani dan jiwai mereka. Dengan begitu HKTI menjadi sehati nurani dengan para petani.

Beragam masalah klasik yang menjerat dan menjebak kehidupan petani, sudah waktunya untuk dijadikan dialog publik. Bahkan bertambahnya angka kepemilikan petani terhadan lahan atau petani gurem yang nota bene menggambarkan “kemiskinan petani”, mutlak dijadikan bahan diskusi, terutama dalam mencari jawaban : mengapa hal semacam itu harus sampai terjadi ? (ini untuk yang akan menahkodai HKTI ke depan).

Tidak dipungkiri sejak lahirnya, HKTI membawa “roh” pembela dan pelindung petani dari kemiskinan. Nah, dengan peran itu janganlah sampai terhianati bagi siapa pun yang akan siap memimpin organisasi ini ke depan. Inilah roh yang patut kita garis bawahi untuk individu yang telah resmi memimpin HKTI ke depan dengan sungguh-sungguh menanamkan dalam dirinya membawa HKTI sebagi roh pembela kaum petani. Itulah sebuah jati diri sejati dari seorang Ketua Umun HKTI yang akan terpilih sebagai manifestasinya ke dalam organisasi itu.

Peran petani setidaknya haruslah mampu tampil sebagai subyek dalam proses pembangunan bangsa ini dan bukan lagi mereka di jadikan objek bahkan komoditas politik semata. Karena itu sangat beralasan jika dalam menyambut Munasnya yang VII ini, HKTI penting melihat kiprahnya ke depan untuk bersikap dan membagun “institution brand” di mata masyarakat khususnya dalam benak para petani di negeri ini.

Memang pernah terjadi opini bahwa HKTI telah mengalami mati suri dalam eksistensinya. Tapi janganlah hal itu di anggap remeh. Kaji dan jika perlu introspeksi ada apa sebenarnya sehingga ada opini semacam itu. Apakah karena HKTI selama ini dinilai kurang peduli pada petani ? ataukah karena pengurusnya lebih senang mengurus dirinya sendiri ketimbang mengurusi nasib petani ?

Lebih ironis jika menelisik Peraturan No. 36/2005 yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Sehingga timbul pertanyaan yang sangat substansi adalah dimanakah peran strategis HKTI dalam mengisi komitmen revitalisasi pembangunan pertanian seharusnya terwujud secara nyata. Kita semua paham, tentunya HKTI tak mau terjebak oleh kebesaran masa lalunya yang hanya mengandalkan teori dan konsep. Dasar pemikiran itulah HKTI mengalami pergeseran substansi. yakni organisasi petani seperti HKTI idealnya tampil sebagai organisasi petani yang berjuang keras untuk membela petani an menyuarakan petani. Yang paling penting adalah bagaimana kiprah HKTI tetap konsisten dalam komitmennya menjaga dan mengawal kebijakan revitalisasi pertanian yang bukan hanya lagi hanya konsep dan teori tetapi program-program pemberdayaan petani yang nyata.

Tunjukkanlah bahwa HKTI adalah organisasi petani independen yang benar-benar berpihak kepada petani. Buktikan sebuah profesionalitas sebagao organisasi yang memperjuangkan hak-hak petani yang sesuai dengan jati dirinya. Yang bisa memfasilitasi dan memediasi kemauan politik Pemerintah dengan aspirasi petani di negeri ini.

Semua itu harus dikedepankan tentunya dengan sebuah kekuatan moral yang menjadi “plat form” nya. Bukan sebuah kekuatan pribadi untuk mencari popularitas apalagi bisnis semata. Konsistensi HKTI itulah layaknya menjadi sebuah gerakan murni dari aspirasi petani membawa perubahan secara nasional. Nyatakan bahwa ini bukan hanya sekedar retorika, wacana, basa basi politik dan janji-janji manis bagi penguasa yang membawa kekecewaan bagi para petani.

Asa dan harapan itu akan memberikan semangat bagi HKTI, apakah bisa meng-interpretasikan semua beban sebagai sebuah harapan ke dalam kepastian yang nyata positif dalam pembangunan pertanian di seluruh pelosok tanah air? Jika tidak, semuanya menjadi menjadi pesimistis melihat peran dan kiprah HKTI itu sendiri.

Fakta yang terjadi di lapangan jika kita mau jujur, kiprah HKTI berjalan di tempat atau “stag”. Timbul tenggelam bagaikan mercu suar yang kadang menyala dan kadang redup. Kita jarang melihat program-program kerja HKTI terstruktur, terukur, kontinyu dan sistemik secara baik. Rata-rata masih bersifat parsial. Jika terdengar ada, HKTI ini lebih kepada permainan kepentingan penguasa atau proyek komoditas politik semata.

Dari tulisan ini, harapan saya dalam rangka Munas HKTI ke VII ini, kiprah HKTI memberikan sebuah aktulasisasi sebagai sebuah langkah dan gerakan yang betul-betul memiliki nafas dari roh yang sama dengan apa yang menjadi “felt need” kaum petani itu sendiri. Salam Petani**

“Ulasan dari seseorang yang merasa dirinya adalah petani sekaligus pejuang petani”