Prabowo menyerang Boediono

Cawapres Boediono mulai berani menyerang pada debat kedua calon wakil presiden yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Selasa (30/6) malam kemarin di Ruang Birawa, Gedung Bidakara, Jakarta. Perlawanan Boediono dilakukan setelah cawapres Prabowo dan cawapres Wiranto beberapa kali menyentil dalam acara debat yang kali ini bertema ‘Meningkatkan Kualitas Hidup’ yang difokuskan pada isu kesehatan dan pendidikan.

Di awal acara, debat yang dimoderatori Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr. Fahmi Idris ini terlihat cair. Ketiga cawapres diberi kesempatan saling menanggapi sosok pribadi masing-masing. Di antara ketiganya, Wiranto mengaku mengenal sosok Prabowo Subianto dan Boediono, begitu pula sebaliknya. Sementara Prabowo Subianto dan Boediono tegas mengatakan tidak kenal secara pribadi.

‘Saya kenal beliau aktif di militer, bukan kenal secara pribadi, tetapi kan nama beliau sudah beken. Waktu itu di pemerintahan begitu juga sudah mengenal beliau,’ kata Boediono. Sementara Prabowo mengatakan, Boediono adalah sosok akademisi, intelektual, dan mengabdi kepada bangsa dan negara cukup lama. Meski diakuinya tidak kenal secara pribadi, karena tidak pernah bertugas bersama.

Namun, suasana cair yang dibangun terlihat agak tegang saat acara debat memasuki sesi pertanyaan dengan saling menanggapi pernyataan antarcawapres. Perlawanan Boediono terlontar saat pertanyaan moderator mengenai langkah dan program cawapres tentang bagaimana policy, arah pendidikan bangsa ini ke depan dikaitkan dengan pendidikan keterampilan dan akademik.

Boediono yang mendapat giliran pertama menjawab bahwa pendidikan adalah kunci. Untuk itu, harus cermat menggunakan 20 persen yang diamanatkan konstitusi dan harus tepat dalam menentukan arah pendidikan itu. ‘Jangan dipatok mati, nanti tidak fleksibel antara kejuruan dan umum, barangakli rasionya 60 kejuruan, dan 40 umum,’ kata Boediono.

Untuk memastikan akan digunakan atau tidak, tergantung situasi dari waktu ke waktu. Terpenting, kata Boediono, yang diperlukan adalah kualitas manusia Indonesia yang memerlukan pendidikan mendasar seperti logika dan penghitungan mendasar yang dimulai dari bawah.

Cawapres Wiranto yang diberi kesempatan menanggapi, mengawalinya dengan nada bercanda, boleh dekat-dekat, sambil menuju arah Boediono. Dia lalu berpendapat bahwa sebagian setuju, sebagian kurang sependapat, karena menceredaskan pendidikan bangsa adalah tugas negara. Padahal, globalisasi diwarnai persaingan luar biasa. Karena itu, globalisasi harus yang berdaya saing agar tidak kalah dengan bangsa lain. ‘Untuk itu, bagi saya antara keterampilan dan akademi, kita kekurangan dengan apa yang disebut manajemen modern. Harus ada keseimbangan antara kejuruan dan umum. Salah antisipasi, kita akan kalah,’ ujarnya.

Sementara cawapres Prabowo meresponsnya dengan mengatakan bahwa jawaban Boediono terlalu normatif. Memang tidak ada salah, tetapi itu seperti jawaban akademis, jawaban sekolah. ‘Masalahnya yang kita hadapi sekarang adalah dari mana uangnya,’ tanyanya.

Diakuinya, dirinya menyadari bahwa pendidikan vital, pendidikan kunci dari perubahan strategi baru, paradigma baru, haluan baru. ‘Ini koreksi dari satu keadaan yang tidak mau membawa kesejahteraan kepada rakyat Indonesia,’ sindirnya.

Mendengar sindiran tersebut, Boediono mulai berani menunjukkan perlawanannya. Dia mengatakan bahwa program yang ditawarkan Prabowo jika terpilih hanya program impian belaka. Uang dikatakan Prabowo dapat diperoleh dalam jumlah ratusan triliun dalam tempo dua tiga tahun melalui penjadwalan utang, yang dibenarkan PBB dan millennium development goal, menurut Boediono, tidak akan terealisasi. Itu suatu yang perlu dikaji kembali.

‘Tidak mungkin kita mendapatkan jumlah cukup besar, sehingga kemudian dapat melipatkan dua kali anggaran dengan penjadwalan utang. Ini adalah kenyataan dunia, kenyataan yang kita hadapi. Bukan mimpi. Oleh karena itu, kita harus kongkret, realistis, apa yang kita lakukan satu dua tahun ke depan. Yang paling penting adalah kemampuan membiayai dari dalam negeri dan membatasi pengeluaran-pengeluaran,’ ujarnya.

Sindiran Boediono tersebut, dijawab kembali Prabowo saat diberi kesempatan pada sesi penutupan acara debat. ‘Tadi Pak Boediono mengatakan saya hanya tebar impian. Bukan impian Pak Boediono. Yang kami tebar adalah harapan baru, atau kita laksanakan suatu perubahan besar,’ kata Prabowo.

Bahkan, Prabowo mengatakan apakah masih perlu melanjutkan program yang sudah jelas tidak mampu membawa rakyat ke arah perubahan. ‘Kita merebut kembali kedaulatan ekonomi, kita rebut kembali kekayaan nasional kita. Kembali untuk dimanfaatkan oleh rakyat Indonesia semua. Itu pilihan yang ada di depan kita. Ibu Mega dan saya sendiri mengajak mari kita lakukan perubahan besar,’ kata Prabowo