Posts

Pesan Prabowo untuk Masyarakat Ambon

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto meminta seluruh masyarakat Ambon, Maluku, agar menahan diri dan tidak mudah terpancing oleh isu-isu provokatif guna menghindari bentrokan antarmasyaraat terus berlanjut.

“Seluruh lapisan masyarakat dari semua unsur harus saling menjaga kesejukan, menjaga perdamaian, dan tidak mudah terpancing oleh desas-desus yang tidak jelas,” kata Prabowo Subianto di sela-sela acara halal bi halal Partai Gerindra, di Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra, di Jakarta, Senin (12/9).

Prabowo mengatakan hal itu menyikapi bentrok antar-warga masyarakat yang terjadi di Ambon, Maluku, pada Minggu (11/9). Menurut dia, masyarakat harus selalu menghindari pertikaian dan kekerasan, karena bukan tidak mungkin ada kekuatan tertentu dan mungkin juga kekuatan asing yang selalu ingin membuat Indonesia gaduh.

“Harus ada komunikasi yang baik dari semua unsur. Saya kira kuncinya adalah komunikasi yang baik, baik dari unsur politik, tokoh masyarakat, ulama, gereja, dan pemuda,” katanya.

Jika komunikasi di antara unsur-unsur masyarakat berjalan baik, menurut dia, maka bentrok yang terjadi di Ambon bisa segera diselesaikan. Prabowo menegaskan, komunikasi tersebut sangat penting untuk menghindari pertikaian dan kekerasan di Ambon.

“Mungkin saja bentrok yang terjadi di Ambon, ada pihak-pihak tertentu atau kekuatan asing, yang menginginkan situasi di Indonesia selalu gaduh,” katanya.

Mantan Komandan Jenderal Kopassus ini menegaskan, bahwa masyarakat harus waspada kepada siapa saja yang menyebarkan desas-desus. “Masyarakat harus dewasa untuk menyikapi secara sejuk desas-desus yang belum tentu benar, tidak perlu dipercaya,” tambahnya.

Menurut dia, masyarakat di Ambon sesungguhnya menginginkan kehidupannya yang rukun dan damai. Di sisi lain, Prabowo juga meminta agar aparat keamanan dapat segera menuntaskan bentrok antar-masyarakat di Ambon sehingga tidak terulang di kemudian hari.

Bentrok antar-masyarakat di Ambon, Maluku, terjadi pada Minggu (11/9), menyusul merebaknya isu yang menyebutkan seorang warga masyarakat yang meninggal karena dibunuh tapi informasi lain mennyebutkan karena mengalami kecelakaan. Akibat bentrokan tersebut, beberapa orang tewas, puluhan warga mengalami luka-luka dan ratusan warga lainnya mengungsi.

Saya Tak Lebih Bagus dari SBY

Prabowo: Saya Tak Lebih Bagus dari SBY

Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Prabowo Subianto punya cara pandang sendiri dalam mengevaluasi kinerja satu tahun pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – Boediono. Dia mengambil perumpamaan sepakbola.

Prabowo mengatakan penonton yang ada di luar lapangan biasanya lebih pintar dari pemain sepakbola. “Jadi kalau [pemain] mengoper bola ke kiri, [penonton] ngomong, kok ke kiri? harusnya ke kanan. Goblok dia,” kata Prabowo usai melantik sejumlah pengurus HKTI di Jakarta, Kamis 21 Oktober 2010. Demikian pula dengan kinerja pemerintahan SBY yang saat ini dia umpamakan ada di dalam lapangan. “Saya akan mudah mengkritik. Coba kalau saya di lapangan, belum tentu bisa lebih bagus dari SBY,” kata Prabowo yang juga pendiri Partai Gerindra ini.

Jika ada yang mau maju sebagai kapten kesebelasan, kata dia, silakan maju dan calonkan diri pada pertandingan yang akan datang. “Silakan maju ke final, kalau enggak final ya jadi pegawai saja.” Dia berharap kritik yang datang ke pemerintahan SBY-Boediono murni kritik membangun. Kalau memang kinerja kurang, katakan kurang. Dia menilai ada sekelompok masyarakat yang saling menggerogoti dan melakukan intrik seperti yang pernah dikatakan mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad.

Suatu saat, kata dia, Mahathir mengatakan bahwa rumpun melayu itu seperti kepiting. “Kenapa kepiting? Coba perhatikan kalau masih hidup, kepiting ditaruh di suatu kolam lalu ada temannya yang lain naik, kepiting ini membawa turun. Kalau ada yang naik lagi, temannya yang lain lagi bawa turun,” kata dia.

Menurutnya, rumpun melayu seperti kepiting yang suka menurunkan kawan yang sedang naik. “Jangan sampai kita jadi bangsa kepiting.” Peringatan satu tahun pemerintahan SBY-Boediono, kemarin, ditandai dengan aksi demo besar-besaran di sejumlah titik, terutama di Jakarta. (umi)

Prabowo menyerang Boediono

Prabowo menyerang Boediono

Cawapres Boediono mulai berani menyerang pada debat kedua calon wakil presiden yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Selasa (30/6) malam kemarin di Ruang Birawa, Gedung Bidakara, Jakarta. Perlawanan Boediono dilakukan setelah cawapres Prabowo dan cawapres Wiranto beberapa kali menyentil dalam acara debat yang kali ini bertema ‘Meningkatkan Kualitas Hidup’ yang difokuskan pada isu kesehatan dan pendidikan.

Di awal acara, debat yang dimoderatori Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr. Fahmi Idris ini terlihat cair. Ketiga cawapres diberi kesempatan saling menanggapi sosok pribadi masing-masing. Di antara ketiganya, Wiranto mengaku mengenal sosok Prabowo Subianto dan Boediono, begitu pula sebaliknya. Sementara Prabowo Subianto dan Boediono tegas mengatakan tidak kenal secara pribadi.

‘Saya kenal beliau aktif di militer, bukan kenal secara pribadi, tetapi kan nama beliau sudah beken. Waktu itu di pemerintahan begitu juga sudah mengenal beliau,’ kata Boediono. Sementara Prabowo mengatakan, Boediono adalah sosok akademisi, intelektual, dan mengabdi kepada bangsa dan negara cukup lama. Meski diakuinya tidak kenal secara pribadi, karena tidak pernah bertugas bersama.

Namun, suasana cair yang dibangun terlihat agak tegang saat acara debat memasuki sesi pertanyaan dengan saling menanggapi pernyataan antarcawapres. Perlawanan Boediono terlontar saat pertanyaan moderator mengenai langkah dan program cawapres tentang bagaimana policy, arah pendidikan bangsa ini ke depan dikaitkan dengan pendidikan keterampilan dan akademik.

Boediono yang mendapat giliran pertama menjawab bahwa pendidikan adalah kunci. Untuk itu, harus cermat menggunakan 20 persen yang diamanatkan konstitusi dan harus tepat dalam menentukan arah pendidikan itu. ‘Jangan dipatok mati, nanti tidak fleksibel antara kejuruan dan umum, barangakli rasionya 60 kejuruan, dan 40 umum,’ kata Boediono.

Untuk memastikan akan digunakan atau tidak, tergantung situasi dari waktu ke waktu. Terpenting, kata Boediono, yang diperlukan adalah kualitas manusia Indonesia yang memerlukan pendidikan mendasar seperti logika dan penghitungan mendasar yang dimulai dari bawah.

Cawapres Wiranto yang diberi kesempatan menanggapi, mengawalinya dengan nada bercanda, boleh dekat-dekat, sambil menuju arah Boediono. Dia lalu berpendapat bahwa sebagian setuju, sebagian kurang sependapat, karena menceredaskan pendidikan bangsa adalah tugas negara. Padahal, globalisasi diwarnai persaingan luar biasa. Karena itu, globalisasi harus yang berdaya saing agar tidak kalah dengan bangsa lain. ‘Untuk itu, bagi saya antara keterampilan dan akademi, kita kekurangan dengan apa yang disebut manajemen modern. Harus ada keseimbangan antara kejuruan dan umum. Salah antisipasi, kita akan kalah,’ ujarnya.

Sementara cawapres Prabowo meresponsnya dengan mengatakan bahwa jawaban Boediono terlalu normatif. Memang tidak ada salah, tetapi itu seperti jawaban akademis, jawaban sekolah. ‘Masalahnya yang kita hadapi sekarang adalah dari mana uangnya,’ tanyanya.

Diakuinya, dirinya menyadari bahwa pendidikan vital, pendidikan kunci dari perubahan strategi baru, paradigma baru, haluan baru. ‘Ini koreksi dari satu keadaan yang tidak mau membawa kesejahteraan kepada rakyat Indonesia,’ sindirnya.

Mendengar sindiran tersebut, Boediono mulai berani menunjukkan perlawanannya. Dia mengatakan bahwa program yang ditawarkan Prabowo jika terpilih hanya program impian belaka. Uang dikatakan Prabowo dapat diperoleh dalam jumlah ratusan triliun dalam tempo dua tiga tahun melalui penjadwalan utang, yang dibenarkan PBB dan millennium development goal, menurut Boediono, tidak akan terealisasi. Itu suatu yang perlu dikaji kembali.

‘Tidak mungkin kita mendapatkan jumlah cukup besar, sehingga kemudian dapat melipatkan dua kali anggaran dengan penjadwalan utang. Ini adalah kenyataan dunia, kenyataan yang kita hadapi. Bukan mimpi. Oleh karena itu, kita harus kongkret, realistis, apa yang kita lakukan satu dua tahun ke depan. Yang paling penting adalah kemampuan membiayai dari dalam negeri dan membatasi pengeluaran-pengeluaran,’ ujarnya.

Sindiran Boediono tersebut, dijawab kembali Prabowo saat diberi kesempatan pada sesi penutupan acara debat. ‘Tadi Pak Boediono mengatakan saya hanya tebar impian. Bukan impian Pak Boediono. Yang kami tebar adalah harapan baru, atau kita laksanakan suatu perubahan besar,’ kata Prabowo.

Bahkan, Prabowo mengatakan apakah masih perlu melanjutkan program yang sudah jelas tidak mampu membawa rakyat ke arah perubahan. ‘Kita merebut kembali kedaulatan ekonomi, kita rebut kembali kekayaan nasional kita. Kembali untuk dimanfaatkan oleh rakyat Indonesia semua. Itu pilihan yang ada di depan kita. Ibu Mega dan saya sendiri mengajak mari kita lakukan perubahan besar,’ kata Prabowo

Membangun Perekonomian yang Bermartabat

Rasanya baru kemarin kita menyambut kehadiran fajar pagi 2004. Namun, bertumpuk agenda – yang mencerminkan beratnya beban bangsa ini – sudah memaksa kita bekerja keras sejak sekarang. Tahun 2004 memang kita masuki dengan harap-harap cemas. Adakah ia akan menjadi titik balik kebangkitan bangsa dari keterpurukan panjang akibat krisis; atau sebaliknya, semakin terpuruk dan bersiap membawa bangsa ini menuju jurang kebangkrutan.

Kita tahu, ada dua agenda strategis pada tahun ini yang sekaligus menjadi titik kritis penentuan nasib bangsa. Yakni, pelaksanaan pemilu legislatif pada 5 April yang dirangkai dengan pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung pada bulan Juli. Kedua hajatan nasional itu diyakini bakal riuh dengan adu kepentingan, terutama dipicu oleh tumbuhnya kekecewaan kolektif terhadap penyelenggaraan pemerintahan selama lima tahun terakhir. Yang pasti, hasil akhir dari pergulatan menuju kursi kepemimpinan nasional itulah yang akan menjadi pertaruhan nasib dan masa depan Indonesia. Tidak terkecuali, yang berkait dengan problematika perekonomian.

Hikmah dari Krisis

Bicara obyektif, tahun 2003 – sebagaimana tahun-tahun sebelumnya – kita tinggalkan dengan sejumlah catatan buram. Era reformasi yang sempat membuncahkan harapan bagi dimilikinya landasan kokoh untuk melakukan serangkaian perubahan, ternyata tidak berjalan pada trek yang benar. Proses transisinya tertatih-tatih, meski sebagian justru kebablasan. Konsep atau tatanan kehidupan yang dulu dicita- citakan oleh para pendiri republik, tampaknya telah terdistorsi di hampir semua bidang.

Setiap hari kita masih terus dihadapkan pada situasi gonjang-ganjing. Ironisnya, sebagian besar terjadi justru akibat ulah dan sikap kita sendiri yang tidak jujur, tidak konsisten, tidak tertib, dan kurang bertanggungjawab dalam mengemban amanat rakyat. Tanpa perlu saling tuding dan menyalahkan satu sama lain, situasi ini tentu harus segera diakhiri. Kita mesti kembali dan belajar menjadi bangsa yang benar. Bangsa yang memiliki harkat dan martabat, mandiri secara ekonomi dengan rakyat yang hidup sejahtera dan tidak sekadar menjadi “kacung” di negeri sendiri – saking banyaknya aset strategis yang kini dimiliki asing.

Kesamaan tekad untuk mengakhiri keterpurukan bangsa memang mesti dikedepankan. Kita harus berani mengakui kesalahan dan sekaligus menyadari bahwa – jika dibandingkan dengan beberapa negara tain yang juga dilanda krisis ekonomi – Indonesia tergolong lamban untuk kembali bangkit. Sementara, lewat cara penyikapan dan strategi penanganan yang benar, tidak sedikit negara korban krisis yang bukan saja telah berhasil lolos dari keterpurukan, tapi bahkan mampu membangun kekuatan ekonomi yang pantas diperhitungkan.

Saya tertarik pada langkah-langkah penanganan krisis yang dilakukan pemerintah Malaysia dan Thailand. Selain dengan cepat melakukan reorientasi kebijakan, antara lain melalui pengendalian devisa, pemberantasan korupsi, dan memobilisasi sumber daya rakyat secara maksimal, pemerintah kedua negara juga jeli menetapkan prioritas program pada upaya menggerakkan roda perekonomian di sektorsektor produksi dengan berbasis sumber daya yang mereka miliki. Krisis pun dapat diatasi tanpa membawa dampak besar dan merugikan rakyat. Bagaimana dengan Indonesia? Mengamati tiga pemerintahan di era reformasi, banyak bukti yang menunjuk kegagalan penyelenggara pemerintahan dalam menghadapi dan mengatasi berbagai tekanan kepentingan yang muncul, baik dari dalam maupun luar pemerintahan. Akibatnya, arah pemulihan perekonomian jadi tak menentu, terdistorsi oleh kepentingan-kepentingan kelompak yang sangat dominan. Ujungujungnya, banyak kebijakan yang tidak aspiratif dengan kebutuhan dan kepentingan rakyat.

Ada pula kebijakan yang baik namun tidak kena sasaran, karena implementasinya di berbagai lini pemerintahan terdeviasi sangat jauh dari kepentingan rakyat kecil. Kenyataan ini menjelaskan, pemerintah selama ini tidak mampu mengonsolidasikan diri serta membangun keselarasan visi dan aksi di antara penanggungjawab berbagai lini pemerintahan untuk konsisten melaksanakan program pemulihan ekonomi. Dewasa ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia bergerak di kisaran 3-4%. Namun, pertumbuhan ini pun lebih didorong oleh sektor konsumsi, bukan sektor riil. Kecenderungan ini membuat pengangguran terus menghadirkan ancaman, dan menuntut antisipasi dini untuk mencegah terjadinya ledakan masalah.

Di tengah kesulitan yang kian mengimpit, pemerintah seharusnya pandai mengambil hikmah dengan mencermati biang penyebab krisis. Runtuhnya berbagai konglomerasi ekonomi, misalnya, merupakan hikmah besar yang tak cukup dimaknai sekadar sebagai akibat lemahnya fundamental perekonomian Indonesia saat itu. Hikmah yang lebih penting: memberikan perhatian berlebihan pada kegiatan ekonomi skala besar dan mengabaikan yang kecil, menengah serta sektor informal, ternyata merupakan kesalahan kebijakan yang harus dibayar sangat mahal. Nyatanya, selama krisis, usaha ekonomi skala kecil, menengah, dan sektor informal justru mampu bertahan bahkan menjadi penopang tetap berlangsungnya kegiatan ekonomi rakyat.

Krisis ekonomi seharusnya juga mampu membuka mata kita bahwa kebijakan pembangunan ekonomi nasional yang bertumpu pada sumber daya luar – dan bukan sumber daya lokal – adalah kebijakan keliru. Strategi kebijakan “footloose industry” yang mengandalkan pada sumber daya luar justru merupakan penyumbang utama ambruknya perekonomian. Dari fakta ini saja, sudah cukup alasan bagi pemerintah untuk segera melakukan reorientasi kebijakan. Utamanya, mengubah strategi kebijakan pembangunan ekonomi menjadi berbasis pada sumber daya lokal atau domestik (resource-based economy).

Membangun Pertanian
Ancaman terhadap kemerdekaan dan kedaulatan bangsa sejatinya tidak hanya tercermin lewat kehidupan rakyat yang makin berat, korupsi yang kian menggurita atau besarnya ketergantungan pembiayaan pembangunan pada utang luar negeri. Ancaman yang paling potensial justru terletak pada ketergantungan kita terhadap impor bahan pangan dari luar negeri. Kenyataan yang sangat ironis ini – mengingat Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang amat kaya dengan berbagai sumber daya – umum dipahami tidak lepas dari adanya skenario jahat pihak luar, yang terwujud lewat kebijakan pangan yang kurang berpihak kepada rakyat.

Kenyataan paradoksal itu pula yang membuat saya sejak awal concern terhadap pentingnya memberikan perhatian dan prioritas yang lebih pada pembangunan sektor pertanian. Sikap ini tentu tidak terlepas dari kondisi faktual tentang banyaknya rakyat Indonesia yang bekerja dan menggantungkan hidup pada sektor ini. Mengutip BPS (2003), jumlah rumah tangga pertanian di Indonesia saat ini tercatat sebanyak 25,4 juta, di mana sebagian besar dari mereka ternyata hidup miskin.

Indikator yang mencolok tampak dari meningkatnya persentase rumah tangga petani gurem terhadap rumah tangga pertanian pengguna lahan – dari 52,7% pada 1993 menjadi 56,5% pada 2003. Menurut definisi BPS, petani gurem adalah rumah tangga pertanian yang menguasai lahan (milik sendiri atau menyewa) kurang dari 0,5 hektar dengan pendapatan per bulan rata-rata di bawah Rp 500 ribu. Dalam 10 tahun terakhir, BPS mencatat terjadinya peningkatan jumlah petani gurem rata-rata 2,6% per tahun, dan kini sudah mencapai 13,7 juta rumah tangga.

Banyak bukti yang menunjuk kurang berpihaknya kebijakan pangan pemerintah kepada petani. Contoh: ketika produksi pertanian anjlok di masa krisis, pemerintah bukannya mendorong ke arah peningkatan produktivitas, melainkan membanjiri pasar dengan beras impor. Bahkan, saat panen raya, pemerintah justru membuka lebar-lebar kran impor beras yang – menurut Depperindag (2003) – mencapai 3,5 juta ton per tahun. Akibatnya, harga beras di tingkat petani pun menukik tajam. Belum lagi, dampak berantai akibat kebijakan konversi lahan, rendahnya pemberian kredit kepada petani, dll., yang kian menyulitkan berkembangnya pembangunan pertanian.

Urgensi pembangunan sektor pertanian sekurangnya didukung oleh empat faktor. Pertama, dimilikinya sumber daya pertanian – lahan subur dan pengairannya – yang cukup melimpah. Kita tahu, luasnya lahan subur merupakan faktor produksi yang potensial didayagunakan secara maksimal. Kedua, ketersediaan tenaga kerja. Memang ada masalah menyangkut kualitas SDM sektor pertanian modern (dalam arti luas) yang belum memadai. Namun lewat kebijakan peningkatan SDM petani yang tepat, kelemahan ini niscaya dapat diperbaiki. Ketiga, besarnya potensi untuk memberikan nilai tambah terhadap produk pertanian lewat proses pengolahan primer pasca panen dan pengembangan agroindustri. Potensi ini tidak lepas dari populasi penduduk Indonesia (220 juta), yang merupakan pasar domestik sangat besar bagi produk pertanian primer dan olahan. Keempat, terkait dengan sifat sumber daya pertanian yang renewable resources. Suatu modal besar bagi upaya pembangunan agroindustri yang berkelanjutan.
Pembangunan pertanian yang dilakukan secara benar niscaya akan mengurangi – dan akhirnya menghilangkan – ketergantungan besar terhadap impor bahan pangan. Sebagai negara agraris, Indonesia sebenarnya tidak cuma memiliki potensi yang sangat besar untuk mandiri dalam pemenuhan kebutuhan pangan, juga untuk berperan sebagai pemasok kebutuhan pangan d’unia. Kuncinya, lagi-lagi, terletak pada kebijakan pemerintah.

Menerbitkan regulasi dan deregulasi tentu tidak cukup. Pemerintah juga mesti melakukan langkah konkret, utamanya untuk menjawab kebutuhan riil saat ini tentang perlunya mengembangkan sektorsektor usaha yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Tentang ini, saya sendiri sejak lama tertarik untuk merealisasikan program pencetakan 1 juta hektar sawah. Selain bisa langsung menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan, program ini juga sangat potensial memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang mengarah ke kemandirian pangan.

Bisa dibayangkan, berapa banyak rakyat yang bisa langsung terbantu jika pola seperti ini dikembangkan pada sejumlah tanaman pangan lain, juga kelapa sawit atau cokelat. Berapa banyak pula rakyat yang terbantu jika program-program konkret seperti ini dilakukan pada sektor-sektor lain, termasuk pembangunan perumahan rakyat. Apa pun, bangsa Indonesia kini tinggal punya pilihan tunggal. Yakni, menjadikan 2004 sebagai momentum untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya bangkit dari keterpurukan panjang dan meretas jalan menjadi bangsa yang mandiri dan bermartabat. Kecuali, Anda dan kita semua merasa cukup dengan hanya menjadi “kacung” di negeri sendiri yang amat kaya ini.